HOW DO YOU DO, Mr. JARED?

Sore itu saya dan teman-teman saya: Agus, Risa, Priska, dan Vero, mengunjungi Wisma Bahasa dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah ‘Pengantar BIPA’. Pak Agung, dosen Pengantar BIPA, menugasi kami untuk mewawancarai salah seorang murid asing yang sedang belajar Bahasa Indonesia di lembaga bahasa tersebut.

Sepuluh menit sebelum jadwal wawancara yang telah ditentukan yakni pukul 3 sore, kami tiba di ‘Gedung’ Wisma Bahasa yang asri dan homy itu. Begitu kami memarkirkan motor, Pak Agung telah menyambut di teras depan. Saat itu cuaca cukup panas sehingga kami memutuskan untuk ngisis di halaman parkir di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh di situ.
Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang bule jangkung berkemeja putih dan bercelana pendek warna khaki. Kecuali Agus, kami saling berbisik saat melihat si bule memasuki gedung hijau yang mungil itu, “ Wah moga-moga aja tuh bule yang bakal kita wawancarai, pasti asyik!”. Harapan kami terkabul. Begitu bule itu memasuki ruang tengah dan duduk di salah satu kursi coklat antik yang ada di situ, Pak Agung menyuruh kami untuk segera memulai wawancara kami. Lalu, setelah saling bersalaman dan berkenalan, kami pun memulai misi kami.

Jared,-demikianlah laki-laki kelahiran Australia Barat, 16 Januari 1976 itu biasa dipanggil. Perawakannya seperti bule-bule pada umumnya: jangkung dengan rambut kecoklatan dan tentu saja kulit putih pucat. Awalnya, kami sempat ragu untuk memulai wawancara kami karena kami mengira Jared akan sedingin dan sekaku bule-bule dalam film-film Hollywood. Namun ternyata, kekhawatiran kami menguap begitu Jared mengembangkan senyum ramahnya dan sangat welcome menyambut kedatangan kami.

Meskipun baru 2 minggu belajar Bahasa Indonesia, kemampuan Jared dalam berkomunikasi menggunakan bahasa barunya itu bisa dikatakan lebih baik daripada kemampuan berbahasa Inggris kami yang yang telah kami pelajari selama lebih dari 6 tahun ini. Keseriusannya untuk belajar Bahasa Indonesia dibuktikannya dengan ketekunannya mengikuti kursus yang tiap harinya memakan waktu hingga 6 jam.

Saat wawancara berlangsung, Jared sering mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa mendengar percakapan kami lebih jelas. “Saya masih sering kesulitan dalam mendengarkan percakapan berbahasa Indonesia. Pernah suatu hari saya mencoba menonton acaranya Tukul Arwana, namun saya tak dapat menangkap kata-katanya,” ujarnya saat kami menanyakan kesulitan-kesulitannya dalam mempelajari Bahasa Indonesia. Ketika ditanya lebih jauh mengenai kesulitan-kesulitannya itu, dia mengatakan, “ Saya masih bingung dalam menggunakan struktur Bahasa Indonesia. Karena tidak seperti dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia tidak memiliki tenses.” Hal lain yang membingungkannya adalah perbedaan kata sapaan ‘Kau’, ‘Kamu’, dan ‘Anda’ serta ‘Aku’ dan ‘Saya’. “Dalam Bahasa Inggris, kami hanya menggunakan kata ‘I’ dan ‘You’,” jelasnya saat kami memanggilnya dengan sapaan ‘Anda’.
Saat kami mencoba mencari tahu gaya belajar yang disukainya, dia mengatakan bahwa dia lebih menyukai mempraktekkan Bahasa Indonesia secara langsung, baik dengan berbicara maupun dengan mendengarkan. “Kadang-kadang,” ujarnya, “saya juga membaca koran dan menonton berita TV berbahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Indonesia saya”.

Selama di Jogja, Jared yang waktu dekat akan bekerja di Kedutaan Besar Australia di Jakarta ini, tinggal di Hotel Jogja Plaza. Untuk alasan pekerjaan itulah, laki-laki yang mulai menyukai makanan Indonesia ini mengambil kursus Bahasa Indonesia.. Jared mengaku, ini bukanlah yang pertama kalinya dia datang ke Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, dia pernah berkunjung ke Bali selama 2 minggu dalam rangka liburan.

Ada banyak hal lain yang kami utarakan pada Jared seperti: bagaimana rasanya memiliki perdana menteri baru (PM Kevin Ruud); sedang musim apa di Australia Barat saat ini, sampai pendapat Jared mengenai orang-orang Indonesia, khususnya Jogja. Untuk yang terakhir, Jared bilang bahwa orang-orang Indonesia sangat ramah. Saking ramahnya, dia sampai khawatir jika dia tidak bisa berbuat hal yang sama pada mereka. “ Saya sangat senang jika bisa berinteraksi langsung dengan orang Indonesia. Namun, saya takut jika mereka menganggap saya tidak sopan ataupun tidak ramah,” akunya.

Sepanjang wawancara berlangsung, kami tidak melulu memonopoli pertanyaan. Beberapa kali Jared mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada kami seperti dari mana asal kami; bagaimana budayanya; sampai pada pertanyaan berbau politis yakni pendapat orang Indonesia mengenai hubungan Indonesia dengan Australia yang seringkali mengalami pasang surut. Kami menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi kesalahpahaman ataupun kesan yang negatif baik mengenai negaranya maupun negara kita sendiri.

Meskipun agak terlambat, kami menanyainya bahasa apa saja yang dikuasainya selain Bahasa Inggris. Jawabnya, “ Saya lahir di Australia. Kedua orang tua saya orang Australia sehingga saya pun tidak berkomunikasi dengan bahasa apapun selain Bahasa Inggris”. Lalu dia menambahkan, “Di Australia, Bahasa Indonesia cukup populer disamping 2 bahasa asing lainnya yakni Bahasa Jepang dan Bahasa Mandarin.”

Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Tiga puluh menit waktu yang diberikan Pak Agung telah berakhir. Tibalah saatnya bagi kami untuk berpamitan. Meskipun Pak Agung pernah mengatakan bahwa orang-orang asing tidak terbiasa bersalaman saat mereka akan berpisah, kmai tetap saja menyalaminya, karena begitulah kebiasaaan kami, orang Indonesia. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Demikian jangkungnya Jared sehingga kami berlima yang hanya setinggi dadanya, nampak seperti ‘kurcaci’ yang mengelilingi ‘Goliath’.

Pengalaman bertemu dan berbicara langsung dengan Jared cukup mengesankan bagi kami. Melalui pertukaran informasi dengannya, wawasan kami mengenai budaya maupun kehidupan orang-orang asing, khususnya Australia, semakin bertambah. Hal penting yang cukup mempengaruhi kami adalah ketekuanan dan kedisiplinan orang-orang asing, baik dalam belajar maupun bekerja. Itu membuat kami berpikir betapa Indonesia juga akan menjadi negara adidaya yang disegani dan dihormati dunia jika saja rakyatnya (termasuk kami juga) tidak malas-malasan dalam menghadapi kemajuan jaman dan tentu saja mnghindari budaya KKN yang ironisnya justru tumbuh subur di negeri ini.

Pada mulanya adalah kata….

Aesop’s Fabel

Fabel merupakan kisah yang bertujuan mengilustrasikan kebenaran. Beberapa fabel berumur sangat tua. Fabel-fabel terbaik pada masa lalu sebagian besar ditulis oleh seorang busak bernama Aesop yang hidup 600 tahun sebelum masehi.. Jutaan anak baik laki-laki maupun perempuan dari berbagai jaman telah membaca kisah fabel yang ditulis Aesop.

Kisah fabel ini saya jiplak dari buku The Children Encyclopedia karangan Arthur Mee versi Bahasa Inggrisnya. Di setiap akhir cerita kita akan menemukan kata-kata mutiara yang sengaja di cantumkan oleh pengarang sebagai pembelajaran bagi pembacanya.

THE PROUD FROG

An ox, grazing in a field, happened to put his foot down among a family of young frogs, and crushed one of them to death. The others told their mother what has

Happened, and said that the animal that did it was the biggest creature they had ever seen.

“Was it as big as this?” said the old frog, swelling herself out in the curious way that frogs do.

“Oh, much bigger than that!” cried the little frogs.

“As big as this?: she asked, straining herself still more.

“Indeed, Mother,” they said, “you would never be so big if you were to stretch till you burst.”

Then the foolish old frog made another effort to make herself still bigger, and she burst and die.

Never try to make yourself out to be more important than you are.

THE WOLF AND THE STORK

A wolf when eating his dinner one day swallowed a bone, which stuck in his throat. He went about howling, asking every animal he met to help him, and promised a large reward to anyone who could get the bone out. At last a stork, who had a long, slender neck and bill, undertook the test.

Poking his long bill down the wolf’s throat, he got hold of the bone and pulled it out; but when he asked for his reward the wolf laughed, and said: “you may think yourself lucky that I not did bite your head off when it was in my mouth.”

Some people are not grateful when someone does them a kindness.

THE DOG AND THE ASS

A big dog and an ass loaded with bread were going on a long journey together.

Both at last grew very hungry, and the ass stopped to eat the thistles by the roadside. This made the dog feel hungrier still, and he begged for a piece of bread from the donkey’s load.

But the ass answered that if he were hungry he must find his own food.

Just then a wolf was seen in the distance coming toward them. The ass at once began to tremble, and told the dog that he hoped he would stand by him and protect him if the wolf attacked him.

“No,” said the dog. “People who eat alone will have to fight alone.”

So he left his fellow traveler to the mercy of the wolf.

If you want to have friends you must show yourself to be friendly.

Ke Beton Ku Berk’lana

Ini bukan bacaan yang baik dan benar.

Saptu,080308


Namaku Shanty, ato Aprel ato apalah terserah kamu mau manggil aku apa asal ada Aprel en Shantynya. Kemarin aku pergi ke Beton, Ponjong, salah satu pedalaman di Gunungkidul Handayani yang terkenal kaya akan daerah pedalamannya. Aku pergi kesana tak sendiri; bareng-bareng sama dewan ‘kape emde’. Buat apa? Biasalah… rapat sekalian makan-makan; makan iwak bakar, makan ati, makan waktu, makan duit (yang jelas bukan duitku!).

Perlukah aku bilang padamu kalo aku jadi anggota dewan ‘kape emde’ (baca: Komite Pendidikan Masyarakat Desa)? Kayaknya gak perlu deh. Toh kamu juga gak mau tau kan?!


Tahukah kamu kalo Beton itu adalah sebuah daerah perairan yang diapit bukit-bukit kapur nan tandus? Pasti baru tahu sekarang kan! Let met tell you seperti apa itu Beton menurut point of view-ku.


Beton bukanlah biji nangka favoritmu. Beton juga tak ada hubungannya sama bangunan beton atawa baja beton apalagi mbok Beton (mang ada?). Beton juga bukan sejenis jerawat yang banyak beton-jolan di mukaku. Beton yang kumaksud adalah sebuah danau yang mana daripadanya mengalir ‘tuk’ alias mata air yang olwez memancar dari perut bumi. Konon, mata air itu baru muncul ke muka bumi tahun 2004 silam. Fenomena alam katanya. Dan katanya juga, danau yang punya kedaleman 3 – 6 meter itu dulunya adalah tempat daripada orang-orang membangun rumah. Sekarang rumah-rumah itu tenggelam, bahkan pohon kelapanya pun cuma kliatan pucuknya saja. Bahkan lagi, jembatan yang pas musim kemarau lalu masih menggantung di tengah danau, kini tak kliatan batang hidungnya: tenggelam. Hiiiiii …… jadi inget Lumpur Panas Lapindo.


Haruskah kukatakan padamu bahwa jembatan yang ‘nyungsep’ itu adalah jalan terpintas menuju Goa Lowo? Kayaknya harus deh, soalnya siapa tahu aja kalo kamu mau ‘topo’ ke gua yang penuh kelelawar itu kamu bisa lebih ngirit bensin. Itu kalo jembatannya udah kliatan batang sama hidungnya, kalo tuh jembatan gak muncul lagi, yah terpaksa kamu nyebur, lumayanlah sambil menyelam minum air (tapi airnya keruh bro!).

Haruskah kukatakan padamu kalo aku ngeri banget ngeliat pemandangan danau itu? Kayaknya gak perlu deh soalnya aku malu sama kamu kalo kamu tau aku menolak mentah-mentah ajakan temenku untuk naik ‘bebek-bebekan’ muterin danau becoz aku phobi sama air yang diam en dalem. Jangankan naik ‘bebek-bebekan’, mantengin air en ngedengerin gemuruh ‘tuk’ dari kejauhan aja udah mbikin merinding.


Jangan membuatku mengatakan kalo pemandangan di danau itu jauh dari mengasyikkan. Bukit-bukit batu karst dengan ceruk-ceruknya yang gelap mengurung danau itu sehingga membuatnya nampak angker. Oh ya, kau pasti tidak tahu kalo di balik bukit yang paling gedhe di sebelah kiri ‘tuk’ ada goanya. Goa Lawa namanya. Eh… tadi udah tak sebutin ya?!


Alkisah pas kami lagi makan ikan bakar yang nikmat en maknyuss di pendopo di pinggir danau, terlihat olehku kawanan wanita, eh maksudku wanita berkawan, yang tengah menuruni jalan sempit lagi terjal dari arah balik bukit paling gedhe. Terlihat pula olehku seikat rumput pakan ternak tergendong di punggung kedua wanita setengah baya itu. Lalu….aku terkesiap saat melihat mereka menyeberangi jembatan yang gak bisa lagi dibedain sama danaunya karena yang kliatan cuman air doank. Dilepasnya sandal mereka. Dicincingkannya rok sampai paha atas mereka…..lalu……selangkah……dua langkah…….mereka menyeberangi jembatan di tengah danau itu dengan mantap seolah sudah hapal betul jalur jembatan itu. Pas mereka tiba persis di tengah-tengah, aku hampir berhenti bernapas karena ternyata airnya lebih dalam dari yang mereka kira. Kupikir mereka akan tenggelam. Alhasil, rok yang tadinya mereka cincingkan basah oleh air yang mencapai perut mereka. Toh mereka akhirnya selamat. Ya….iyalah… wong ternyata itu udah rutinitas mereka saban harinya.


Haruskah kukatakan padamu wahai pembacaku yang pakdiman kalo aku phobi benar sama danau yang tenang lagi keruh airnya? Mungkin kamu musti tahu, biar kamu gak ngajak aku naik ‘bebek-bebekan’. Dan yang paling penting yang musti engkau ketahui bahwasannya aku minta maap banget coz aku gak bisa ngasih picture. Lain kali aku bakal b’rusaha bawa jepretan biar kalian bisa ikut ngeliat apa yang kuliat.


Haruskah kukatakan padamu aku harus berhenti nulis sekarang perutku dah keroncongan? Serius, aku bakal  pingsan kelaparan kalo gak segera ke warung makan segera. Entar kalo aku masih eror, aku pasti nulis lagi, itu kalo ada mood buat nulis. C u on my next stories……

Hero of the Month

Dalai  Lama,Pembawa Obor Perdamaian
 Dari Tibet

“Karena kita semua berbagi di bumi yang kecil ini. kita harus saling belajar untuk hidup dengan harmonis dan damai satu sama lain, termasuk dengan alam.”

(Pidato Dalai Lama saat penyerahan penghargaan Nobelnya pada 11 Desember 1989).

Dalai Lama. Siapa tak kenal tokoh satu ini? Namanya kerap menghiasi headline berbagai media massa di seluruh dunia, terlebih dalam sebulan terakhir ini. Perjuangan tanpa kekerasannya telah mengantarnya meraih penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1989. bahkan, ia disebut-sebut sebagai penerus Mahatma Gandhi, salah satu tokoh perdamaian terbesar abad ini.

Terlahir sebagai Lhamo Thondup pada 6 Juni 1935, anak ke-9 dari keluarga petani ini diidentifikasikan sebagai pewaris Dalai Lama ke-13 saat usianya baru 2 tahun. Dalai Lama berarti “semua yang menyangkut Lama”, yaitu seseorang yang dianggap sebagai reinkarnasi arwah leluhur serta perwujudan Avalokiteshvara, gabungan dari seluruh kasih sayang Sang Budha. Saat usianya menginjak 15 tahun, ia secara resmi dinobatkan sebagai perwujudan ke-14 Dalai Lama. Sebagai Dalai Lama, ia menjadi pemimpin spiritual umat Budha di Tibet serta pemimpin monarki Tibet.

Penobatan tersebut dilakukan karena situasi keamanan di Tibet yang semakin memburuk. Saat itu, 7 Oktober 1950, Cina menginvasi dan menguasai Tibet sehingga mengancam kemerdekaan negeri ‘atap dunia’ itu. Pendudukan tersebut memicu berbagai perlawanan baik dari 6 juta rakyat Tibet sendiri maupun dari pasukan pendukung Amerika Serikat. Dalai Lama tidak menyetujui perjuangan dengan kekerasan yang dilakukan rakyatnya dan para pendukungnya. Alasannya, kekerasan hanya akan melahirkan semakin banyak kekerasan dan penderitaan.

Pada tahun 1959, karena alasan keselamatannya, Dalai Lama beserta 80.000 pengikutnya mengungsi ke Dharamsala, di kaki Gunung Himalaya, India Utara. Di tempat itulah dia mendirikan markas dan membentuk pemerintahan pengungsian Tibet hingga sekarang.

Sementara itu, pada waktu yang sama saat dia meninggalkan negerinya, Cina semakin kuat menancapkan kekuasaannya di seluruh Tibet. Situasi di Tibet semakin memburuk saat pada tahun 1966, Mao Zedong mengumumkan ”Revolusi Besar Budaya Proletar”, sebuah dekade panjang bencana politik dimana kehormatan tradisional diabaikan, artefak budaya dihancurkan dan dimusnahkan, ekspresi budaya dibatasi, dan praktik keagamaan ditekan. Bahkan, China seringkali menghukum mati mereka yang menolak mengakui kedaulatan China atas Tibet ataupun pengakuan kesetiaan mereka pada Dalai Lama. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia oleh China telah menjadi hal yang biasa terjadi di Tibet.

Di tempat pengungsiannya, Dalai Lama tidak tinggal diam melihat China melakukan genosida budaya negerinya. Perjuangannya mencari kebebasan untuk Tibet tidak pernah surut. Dia berkeliling dunia menemui para tokoh-tokoh besar dunia untuk mencari dukungan atas kemerdekaan negerinya. Prinsip yang selalu dia pegang teguh adalah berusaha mencegah kekerasan dalam perjuangan rakyatnya meraih kemerdekaan. Dalai yang memiliki nama lain Tenzin Gyatsi ini, terus berupaya menjalin perundingan dengan China untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Selama bertahun-tahun, Dalai Lama dan rakyatnya tak pernah lelah dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka. Puncaknya terjadi saat peringatan 49 tahun pemberontakan Tibet terhadap pemerintah komunis China yang gagal dan menyebabkan Dalai Lama mengungsi ke India sampai sekarang pada hari Jumat, 14 Maret 2008 lalu. Dalam demonstrasi yang dipimpin oleh para biksu itu, 100 orang diperkirakan tewas oleh tembakan ribuan tentara yang dikerahkan pemerintah China. Akibatnya, kerusuhan merebak di berbagai wilayah di Tibet atas aksi anarkis yang dilakukan tentara China itu.

China memang pantas merasa berang atas unjuk rasa yang memakan puluhan bahkan ratusan korban jiwa itu. Pasalnya, pada bulan Agustus nanti China akan menjadi tuan rumah Olympiade di Beijing sehingga kerusuhan di Tibet dikhawatirkan akan menggangggu pelaksanaan pesta olahraga sejagad itu. Bahkan, bukan hal yang tidak mungkin jika terjadi pemboikotan Olympiade oleh negara-negara penjujung hak asasi manusia.

Obor Olympiade yang melambangkan perdamaian memang belum lama ini di sulut. Namun obor perdamaian yang sesungguhnya telah menyala di Tibet jauh sebelumnya. Dalai Lama, sang pembawa obor perdamaian itu masih teguh pada prinsipnya untuk menghindari kekerasan dalam perjuangannya dan rakyatnya dalam mencapai kemerdekaan. Atas nama segala penindasan dan kekerasan, semoga obor perdamaian itu terus menyala dan mampu mempersatukan jurang pemisah baik antara Tibet dan China sendiri, maupun seluruh dunia.


Imagine there’s no countries. It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for. And no religion too
Imagine all the people, living life in peace…

(Jhon Lennon, Imagine)


Baca Lanjutannya…

kulo nuwun

welcome to my blog

here i am. what you read is what i’ve done

monggo selamat menikmati hidanganku!